|
Artikel Kakak
|
kakak menulis |
Gaya Hidup Dan Eksploitasi Seksual Anak ::27 May 2010 ::Artikel
Gaya hidup diartikan sebagai perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup merupakan frame of reference yang dipakai seseorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu. Gaya hidup yang ada pada diri seorang anak sangat tergantung dengan lingkungan sekitar anak baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan sepermainan. Karena tuntutan dari lingkungan dan keinginan untuk membentuk citra diri banyak gaya hidup dari anak-anak khususnya yang akhirnya sangat bertolak belakang dengan status sosialnya.
Salah satu gaya hidup anak yang tidak mencerminakan latar belakang ekonomi anak adalah gaya hidup anak yang sudah tidak bisa membedakan lagi apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan lagi. Banyak anak-anak sekarang ini untuk memenuhi gaya hidup sesuai dengan tuntutan lingkungan membuat mereka harus memaksakan diri untuk bisa mendapatkan sesuatu yang sebenarnya hanya merupakan keinginan. Situasi ini sering dimanfaatkan oleh orang tertentu untuk melakukan kekerasan dan eksploitasi. Karena pendekatan pelaku yang halus dan seperti teman membuat anak tidak menyadari bahwa dia menjadi korban kekerasan dan eksploitasi seksual.
Imbalan yang diterima anak digunakan untuk memenuhi keinginan mereka diantaranya untuk memenuhi kebutuhan tersier ( untuk kemewahan ) misalkan hand phone , baju dan sepatu yang up to date bahkan motor atau kebutuhan lain. Dibutakan dengan keinginan yang begitu besar dalam mewujudkan citra diri sesuai dengan tuntutan lingkungan membuat anak tidak menyadari bahwa dia berada dalam situasi kekerasan dan eksploitasi seksual. Dari 110 anak korban ESKA yang didampingi Yayasan KAKAK 90 % anak memiliki gaya hidup yang tidak mencerminkan status ekonomi sehingga tidak bias membedakan lagi mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Mereka akan mengupayakan segala macam cara untuk mendapatkan gaya hidup yang diimpikan. Tanpa menyadari bahaya yang mencancam anak karena kurangnya informasi yang diterima
Salah satu gaya hidup yang terkait dengan prilaku seksual pada anak-anak yang sudah menginjak usia 12 – 17 tahun adalah gaya dalam berpacaran. Pengaruh dari tayangan media baik di internet, VCD porno, majalah, televisi atau yang lain banyak menggambarkan prilaku seksual yang sangat mempengaruhi gaya berpacaran anak. Ketersediaan informasi yang terkait dengan prilaku seksual lebih ditekankan pada sesuatu yang sifatnya keindahan cinta. Kebanyakan dari mereka menggunakan nilai-nilai dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar tanpa mengetahui secara pasti apakah yang dilakukan tersebut tepat dan tanpa mengetahui konsekuensi yang akan dialami oleh anak setelah hal tersebut dilakukan.
Gaya hidup dalam berperilaku seksual dan berpacaran pada usia anak-anak saat sekarang banyak dimanfaatkan oleh orang yang lebih dewasa untuk melakukan kekerasan seksual baik dalam bentuk pelecehan, pencabulan atau bahkan perkosaan. Hal tersebut dilakukan dengan cara bujuk rayu atau dengan cara ancaman dari rekaman yang pernah dibuat oleh pasangan/pacar mereka . Ketika anak-anak berada dalam situasi tersebut kebanyakan mereka tidak mampu untuk melindungi diri mereka sendiri dan akhirnya terjadi proses ekploitasi seksual terhadap anak. Berdasarkan hasil pendampingan Yayasan Kakak pada periode 2006 – 2009 menunjukkan kecenderungan penyebab anak-anak menjadi korban eksploitasi seksual 75% karena mendapatkan kekerasan seksual pasangan/pacar ketika berusia 13 – 16 tahun.
Dari jumlah tersebut orang tua sebagian besar tidak mengetahui situasi yang telah terjadi pada anak-anak mereka. Disamping ketakutan anak untuk bias menceritakan hal tersebut orang tua juga tidak pernah menyadari situasi kekerasan yang sudah terjadi pada anak.
Korban kekerasan dan eksploitasi karena gaya hidup pada anak-anak saat ini menjadi penyebab yang dominan. Keperpihakan masyrakat tentang keberadaan korban masih sangat minim. Jika hal tersebut sudah terjadi yang banyak dilakukan adalah stigma dan pengucilan terhadap anak. Padahal yang justru harus dilakukan adalah bagimana cara untuk bisa menyelamatkan anak dari situasi kekerasan dan eksploitasi sehingga anak bisa terlepas dari situasi tersebut. Untuk menyelamatkan anak hal pertama yang harus dilakukan adalah perubahan perspektif bahwa anak adalah korban dari system yang mendorong anak mempunyai gaya hidup yang tidak sesuai dengan status ekonomi ataupun sosial. Dengan keperpihakan pada anak tentunya anak tidak akan disalahkan saja tetapi bagaimana penerimaan anak dan penguatan anak untuk bisa diterima lagi di tengah-tengah masyrakat baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Penguatan dan penerimaan anak secara psikologis akan menghilangkan tekanan-tekanan sehingga anak akan berasa lebih berarti dan akan berkembang menuju situasi yang lebih baik. Yang perlu ditekankan lagi adalah bagaimana anak-anak tetap mendapatkan hak mereka dalam memperoleh pendidikan dan perlindungan.
Hak memperoleh pendidikan dapat dilakukan dengan penerimaan kembali anak di lingkungan sekolah dan tidak menyudutkan anak sehingga anak merasa nyaman untuk belajar di lingkungan sekolah. Pada kenyatannya hal ini masih sulit untuk dilakukan karena kebanyakan masih menyalahkan dan menyudutkan anak, dengan berbagai alasan dari pandangan masyrakat, moral, tata tertib dan masih banyak alasan yang lain. Padahal sebenarny sekolah justru berperan dalam rangkan rehabilitasi anak sehingga anak bisa menjadi lebih baik dan sebagai penyadaran untuk melakukan tindakan pencegahan secara lebih intens.
Dengan disudutkannya anak tentu saja ini lebih membuka ruang bagi para pelaku kekerasan dan eksploitasi untuk memanfaatkan anak dengan menerima korban di lingkungan mereka. Hal inilah yang membuat persepsi anak menjadi berubah dengan menganggap pelaku sebagai seorang pahlawan karena menerima korban pada situasi yang paling buruk. Padahal sebenarnya mereka akan dimanfaatkan dan lebih dieksploitasi lagi.
Sedangkan hal untuk mendapatkan perlindungan dilakukan dengan menindak pelaku yang telah melakukan kekerasan dan eksploitasi kepada anak. Anak harus didukung untuk berproses hukum dan melaporkan hal yang sudah menimpa diri anak. Perlindungan hukum menjadi sesuatu yang sangat krusial karena akan mengembalikan kepercayaan diri anak bahwa mereka dalam situasi yang aman dan dilindungi oleh negara.
Kasus kekerasan yang tidak berproses hukum berdasarkan pendampingan Yayasan Kakak membuat anak merasa wajar diperlakukan seperti apapun sehingga membuat kosep diri menjadi negatif yang akhirnya mereka mudah sekali diekploitasi oleh para pelaku. Hal itu dikuatkan lagi dari hasil pendampingan Yayasan KAKAK terhadap anak korban Eksploitasi Seksual 75 % dari korban pernah mengalami kekerasan seksual dan semuannya tidak ada yang berproses hukum.
Situasi tersebut tentunya membuat kita semua menjadi prihatin karena sebenarnya secara tidak langsung para pelaku berlomba dengan masyarakat baik keluarga sekolah atau yang lain dalam memberikan perhatian pada anak. Pelaku akan dengan segala cara menerima keberadaan anak dengan niat agar bisa lebih mengeksploitasi. Sedangkan masyrakat pada umumnya justri malah meolak anak dengan berbagai macam alasan.
Situasi ini harus ditekankan dan menjadi kesadaran bersama sehingga mulai dari diri kita berniat untuk memberi pertolongan pada anak dan bertekat untuk membuat situasi yang lebih baik lagi. Tanpa peran dari masyrakat situasi kekerasan dan eksploitasi yang sekarang ini semakin meningkat tentunya korban kekerasan dan eksploitasi akan semakin bertambah besar. Untuk itu mari bersama-sama untuk peduli terhadap korban sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
Ciptakan dunia yang lebih layak untuk anak-anak. (Shoim Syahriyati)
| Kiat-kiat Mencegah Terjadinya Perdagangan Anak Penyebab Kekerasan Seksual Terhadap Anak Dan Hubungan Pelaku Dengan Korban Perlindungan Korban Eska Antara Realitas Dan Harapan Upaya Kemandirian Lsm Dengan Penggalangan Dana Non Donor Gizi Buruk Di Tengah Gejolak Konsumerisme Larangan Merokok, Siapa Peduli! Merangsang Daya Kritis Anak Lewat Dongeng Menyiapkan Bisnis Untuk Anak Cucu Ketika Minyak Menentukan Semua Keputusan Ujian Nasional: Pemenuhan Hak Anak (?)
|
|